jump to navigation

10 Juni 2009

Posted by m3n4n in Uncategorized.
add a comment

KERUNTUHAN UMAT ISLAM

Kurang lebih 14 abad yang lalu, ketika dunia tenggelam dalam kegelapan jahiliyah, dosa dan kemungkaran, secercah cahaya pengetahuan dan petunjuk kebenaran muncul dari cakrawala perbukitan kota Makkah. Cahaya tersebut menyebar ke timur, barat, utara dan selatan hingga seluruh pelosok dunia dalam waktu yang singkat yakni sekitar 23 tahun.

Cahaya tersebut menerangi umat manusia dan menyadarkan mereka tentang pentingnya mengikuti petunjuk kebenaran yang akhirnya akan membawa pada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Dengan mengikuti jalan dan petunjuk kebenaran dari cahaya tersebut umat Islam memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dan mencapai puncak kemuliaan dalam sejarah. Selama beberapa abad mereka memimpin dunia dengan penuh keagungan dan kekuatan sehingga tidak ada kekuatan dimasa itu yang berani menentangnya.

Sayang kenyataan sejarah ini tinggal menjadi sebuah cerita kuno yang tanpa makna terutama bila dikaitkan dengan konteks umat Islam masa kini yang jelas-jelas hanya merupakan titik kecil dari prestasi gemilang dari para pemeluk Islam terdahulu.

Kondisi Umat Islam

Sejarah menunjukkan bahwa dahulu umat Islam satu-satunya pemilik kemuliaan, kehormatan, kekuasaan dan keagungan. Tapi saat ini kita melihat gambaran umat yang tenggelam dalam kesengsaraan dan kehinaan, umat tidak memiliki kekuasaan, persaudaraan dan rasa kasih sayang yang sesungguhnya antara sesama umat. Kurangnya rasa ikhrom/memuliakan dengan sesama muslim baik terhadap orang yang lebih tua, sesama dan terhadap yang muda. Terlalu terlena dengan kemegahan dunia sehingga sering membuat kejahatan dan dosa. Ditambah lagi dengan kondisi generasi muda Islam yang cenderung terseret arus moderenisasi dan alergi terhadap syariat agama.

Pencipta alam semesta, Allah subhanahu wata’ala telah menetapkan bahwa kerajaan dan kekhalifahan-Nya di muka bumi hanyalah untuk orang-orang Islam sejati (Mukmin), sesuai dengan firman Allah:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih, bahwa Dia bersungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah dimuka bumi (An-Nur: 55)

Allah subhanahu wata’ala juga berjanji akan selalu memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang-orang Muslim sejati dan mereka selalu tetap mulia dan jaya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman (Ar-Ruum: 47)

Janganlah kamu lemah dan janganlah berduka cita sedang kamu orang-orang yang lebih tinggi jika kamu orang beriman (‘Ali Imron: 139)

Bagi Allah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin (Al-Munafiqun: 8)

Penegasan Allah diatas dengan tegas menunjukkan bahwa jalan untuk mendapatkan kembali kemuliaan, kebesaran, keagungan dan kebajikan umat Islam yang terletak pada keimanan yang kuat. Apabila mereka memiliki keimanan atau hubungan kepada Allah dan Rasul kuat dan teguh, maka mereka akan ditetapkan menjadi penguasa bagi segala sesuatu di bumi. Tetapi sebaliknya apabila hubungan itu lemah atau rusak sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan perintah Allah, maka bencana dan kemerosotanlah yang akan terjadi. Ini dijelaskan oleh ayat berikut:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan berwasiat (nasehat-menasehati) dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran (Al-‘Ashr: 1-3)

Berdasarkan ayat-ayat diatas jelaslah bahwa umat Islam pada masa awal dapat mencapai kedudukan yang tinggi karena kemurnian dan kekuatan iman, serta ketinggian akhlak mereka. Sebaliknya keadaan umat yang merosot saat ini merupakan akibat dari lemahnya iman dan rendahnya akhlak. Kita lihat saja dalam kehidupan sehari-hari telah banyak orang yang meninggalkan sholat dengan alasan sibuk kerja, sibuk organisasi dan seribu alasan lainnya. Seorang anak yang semakin tinggi pendidikannya semakin durhaka pada orang tua dan berani pada guru, masih seabrek contoh kejahatan lain yang hari demi hari kita lakukan sehingga tanpa terasa telah menjauhkan kita dari Allah sang Kholik.

Dosa-dosa yang selalu dikerjakan akan membuat hilangnya ruh Islam didalam dada yang berakibat padamnya kecintaan terhadap Islam. Apabila kita tidak segera menghidupkan kembali, kita tidak akan memperoleh apapun dalam hidup ini karena tidak ada sebuah bangsa pun yang dapat mencapai kemuliaan tanpa disertai sifat-sifat dan watak manusia unggul yang mana hanya Islam saja yang dapat memberikannya.

Kembali Pada Cahaya Illahi

Untuk mengubah kondisi umat ini maka tidak ada jalan lain selain jalan yang telah di contohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Metode beliau telah berhasil merubah umat manusia dari tidak beradab menjadi manusia beradab dan mulia. Rasul mengajarkan agama kepada sahabat dan juga mengamalkan apa yang disampaikannya. Ini adalah metode yang paling berkesan selain menyampaikan syi’ar agama juga menjadi panutan dalam pengamalannya. Ada 6 hal yang telah menjadi sifat para sahabat dalam beragama sehingga sahabat dimudahkan Allah untuk dapat mengamalkan agama secara sempurna. Jika 6 sifat sahabat tersebut dimiliki dan diamalkan juga oleh umat manusia saat ini maka akan memperoleh kejayaan sebagaimana kejayaan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada para sahabat. 6 sifat sahabat tersebut antara lain:

1. Meluruskan keyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah
Hari ini tidak ada berhala yang nyata (patung) yang disembah oleh umat Islam seperti umat terdahulu tetapi berhala berupa kecintaan dunia yang berlebihan telah masuk kedalam hati sehingga sering melupakan Allah.
Belajar meluruskan keyakinan dengan selalu mentalkinkan kalimat thoibah Laailaaha’illallah muhammadarrasulullah sebanyak-banyaknya, dan memahami maksud dan tujuannya. Meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala sang pencipta, pengatur dan menguasai segala sesuatu dan Dia saja yang harus disembah dan dita’ati. Dia yang memberikan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup. Keberhasilan hanyalah dapat diperoleh apabila kita benar-benar mencontoh ajaran nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.

2. Menjalankan sholat fardhu tepat pada waktunya
Sahabat nabi selalu melaksanakan sholat sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi sehingga Allah ridho dengan sahabat. Hari ini kita sering meninggalkan sholat tanpa ada rasa berdosa. Bagaimana mungkin ingin merubah bangsa kalau masih banyak pemimpin dan calon-calon pemimpin yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi banyak yang meninggalkan sholat fardhu.

3. Mencintai Al-Qur’an secara lahir dan batin,
Dengan cara; setiap hari membaca Al-Qur’an, mempelajari dan memahami isinya. Juga mengusahakan agar anak-anak kita, anak-anak tetangga dan orang lain dapat membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah sehingga barangsiapa berusaha menghapalkanya maka akan dimudahkan Allah untuk menghapalnya lebih mudah.
Jika kita membaca surat dari sang kekasih maka akan terasa bosan jika surat itu kita baca berulang-ulang untuk sekian kalinya. Berbeda dengan Al-Qur’an, semakin sering kita membacanya maka semakin dekat ruh kita dengan sang Kholik.

4. Memperbanyak dan mengamalkan dzikir (ingat kepada Allah)
Dzikir tidak hanya duduk berlama-lama di masjid tetapi dengan menyebut atau berdoa kepada Allah sebelum memulai pekerjaan juga termasuk dzikir. Dzikir yang dianjurkan oleh sebagian besar ulama adalah dzikir selepas sholat fardhu, pada pagi dan petang, dan mengamalkan doa-doa sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul.

5. Memuliakan saudara Muslim
Setiap orang Islam hendaknya dianggap sebagai saudaranya sendiri, diperlakukan dengan penuh kasih saying, simpati dan tulus ikhlas.

6. Menyampaikan dan Mendakwahkan Agama
Umat ini sering lupa pada maksud dia diciptakan dimuka bumi sehingga sering membuat kerusakan dan ingkar kepada Allah. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam maka Allah tidak akan menurunkan lagi nabi untuk memperbaiki umat ini karena umat akhir jaman ini telah Allah lantik sebagai ghoirru ummah (umat terbaik) yang bertanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga tanggung jawab kenabian menjadi tanggung jawab kita. Mentablighkan dan mendawahkan agama tidak sulit seperti yang kita bayangkan. Mengajak orang lain sholat dimasjid juga termasuk dakwah dan amar makruf lainnya.
Untuk memperbaiki umat memang membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup lama. Yang penting adalah apa yang sudah kita perbuat untuk umat ini.

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah, kita telah tahu penyebab kerusakan umat saat ini. Bukan karena penjajah yang salah tetapi karena kita telah meninggalkan dakwah dan tugas amar makruf nahi mungkar sehingga banyak rekan-rekan kita yang masih belum mendapat cahaya hidayah dari Allah karena masih berlumuran dengan dosa. Siapa yang akan mengajak mereka untuk bertobat? Untuk memakmurkan masjid? Untuk beraklak mulia? Jawabannya hanya ada pada kita. Agama tidak akan sampai pada suatu kaum melalui arus atau gelombang, tiupan angin, ataupun dibawa oleh seekor burung. Tetapi agama akan sampai pada saudara kita melalui gerakan dakwah kita.

Hadits diriwayatkan oleh Anas radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda, “Kalimat La ilaha ilallah senantiasa akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya dan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana asalkan tidak mengabaikan hak-haknya”. Ditanya pada Rasul, “Ya Rasulullah, bagaimana hak-haknya diabaikan?” Jawab beliau, ”Apabila maksiat dilakukan dengan terang-terangan dan dia tidak melarang pelaku maksiat dari perbuatannya.”
Semoga bermanfaat untuk menambah cakrawala keimanan dan keilmuan kita, amin.

***

Ditulis oleh:
Heppi Iromo (Sekretaris Ta’mir Masjid Kampus Universitas Borneo Tarakan “Nurul Ilmi”)

PENGHALANG MENGIKUTI KEBENARAN 5 Juni 2009

Posted by m3n4n in Uncategorized.
add a comment

Ini merupakan suatu jawaban atas adanya masalah yang selama ini menggelayuti kehidupan manusia sebagai suatu penghalang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.

Setiap muslim pasti menginginkan agar dalam hidup di dunia ini dirinya benar-benar berada diatas jalan yang haq atau di atas Shirathal Mustaqim, bahkan kita selalu berdoa kepada Allah dalam shalat kita minimal tujuh belas kali sehari dengan doa: “Ihdinash shirathal mustaqim (Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus).”

Itulah doa yang selalu kita panjatkan, agar kita dapat tetap berjalan di atas kebenaran, mengikuti jalan Islam yang haq, untuk taat kepada Allah, untuk meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya, untuk mengikuti jejak Rasullallah dan para sahabatnya, untuk menjauhi segala bentuk bid’ah dan kesesatan. Untuk merealisasikan itu semua tidaklah mudah, karena dia harus menghadapi banyak rintangan dan godaan yang selalu menghalanginya dari kebenaran tersebut.

Di antaranya terdapat sepuluh sebab yang menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran, antara lain sebagai berikut:

Kurang dan Lemahnya Ilmu tentang Kebenaran Tersebut

Kita telah mengetahui, bahwa seorang muslim wajib untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan ialah kegelapan. Dengan ilmu ia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Rasullulah berseru bahwa “Menuntut ilmu itu ialah kewajiban bagi semua muslim.”

Ada 2 jenis tentara kebatilan yang masuk ke dalam hati manusia, yaitu para tentara syahwat yang durjana dan tentara syubhat yang bathil. Orang yang hatinya condong pada syubhat, maka hati, lisan amalan-amalannya berupa keraguan, syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil (bodoh) menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan.

Adapun orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa bashirah dapat menyingkap hakekat dibalik segala sesuatu apakah berupa kebenaran atau kebatilan. Apabila kita hendak menelaah hakekat suatu pengertian, apakah dia itu haq atau bathil, lepaskanlah dari semua pengaruh ungkapan kata-kata, lepaskan diri kita dari sikap apriori atau simpati, kemudian setelah itu berikan akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang obyektif.

Hati yang Kotor Akibat Maksiat

Al-Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “Biasa jadi pengetahuan dia tentang ilmu tersebut sempurna, tetapi tidak cukup dengan ilmu pengetahuan saja untuk bisa mengikuti kebenaran. Ada syarat lain, yaitu harus bersih atau dia itu telah siap untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia sendiri belum dibersihkan, maka kebenaran yang datang akan sulit diterima, apalagi untuk diikuti.”

Dalam hal ini hati manusia dimana bila ia banyak berbuat dosa dan maksiat, jauh dari aturan-aturan Allah, maka hatinya menjadi kotor. Bila perbuatan itu terus-terusan terjadi maka ia tidak mengenal lagi mana yang baik dan yang munkar, selanjutnya ilmu yang dimilikinya pun tidak akan bermanfaat lagi.

Sombong dan Dengki

Sombong dan dengki menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran. Oleh karena itu hati kita harus dibersihkan dari sifat sombong. Adapun hal yang menyebabkan manusia bersifat sombong antara lain, karena ia merasa memiliki ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu agama yang lebih dari yang lainnnya. Selain itu ialah harta, keturunan, ketampanan dan kecantikan. Untuk mengendalikan hal itu kita harus senantiasa ingat bahwa kita ini manusia, tempatnya berbuat salah dan dosa serta diciptakan dari tanah dan tidak ada keunggulan darinya selain keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhaanahu wata’ala dimana hanya Allah-lah yang tahu siapa manusia bertaqwa.

Selain itu sifat buruk yang akan menghalangi kebenaran ialah sifat dengki. Pada sifat ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Dimana dirinya akan merasa tersiksa karena hatinya selalu tidak tenang bila melihat orang lain senang atau mendapat kebaikan dan merugikan orang lain karena orang yang dengki akan melakukan apa saja untuk mencegah kebahagiaan atau kebenaran yang didapatkan oleh orang lain.

Lebih Mencintai Kehormatan daripada Kebenaran

Hal ini terjadi pada orang yang tidak ingin kehilangan kewibawaannya bila ia mengikuti jalan yang benar karena kebanyakan orang-orang berada di luar jalan yang benar. Maka solusinya ialah menguatkan hati untuk tetap istiqomah dijalan kebenaran apapun resiko yang akan dihadapi.

Syahwat dan Harta

Syahwat dan harta bila tidak dikendalikan dengan baik maka akan menimbulkan mala petaka pada orang yang bersangkutan dimana ia akan terhalang dari kebenaran. Godaan syahwat bisa dicontohkan bila mana seorang muslim ataupun muslimah yang digelapkan mata hatinya karena jatuh cinta pada orang diluar Islam sehingga ia rela untuk meninggalkan keislamannya. Sedangkan contoh harta yang membawa petaka ialah bila mana kita lebih mengutamakan harta kita dibandingkan kebenaran yang harus dijalankan. Jalan yang harus kita tempuh untuk menghindari hal tersebut ialah bersabar dalam keadaan apapun dan tetap yakin bahwa kebenaran akan membawa kebahagiaan yang abadi.

Cinta Kepada Keluarga dan Karib Kerabat Melebihi Cintanya Kepada Kebenaran

Jika kita akan mengikuti kebenaran yang harus berbenturan dengan keluarga atau dengan karib kerabat, dipastikan akan mengalami masa-masa sulit. Dimana hal ini akan menjadi sebuah dilema bagi seseorang yang mengalaminya dimana dua hal yang paling penting dalam hidupnya harus dipilih salah satu, jalan kebenarankah atau keluarga yang akan dipilih. Namun bila orang tersebut benar-benar memiliki keimanan yang kuat maka dipastikan ia akan memilih jalan kebenaran sebagai pilihan utamanya dengan menyadari berbagai resiko atau konsekuensi yang akan dihadapi.

Lebih Mencintai Negara dan Tanah Air daripada Mencintai Kebenaran

Pada bagian ini menerangkan tentang seseorang yang lebih memilih negara dan tanah airnya dari pada menjalankan apa yang seharusnya dilakukan menurut islam. Biasanya kenyataan seperti ini rentan pada orang yang imannya masih lemah. Oleh karena itu untuk menghindari masalah ini maka pertebalah keimanan kita terhadap Islam.

Mencintai Nenek Moyang Melebihi Cintanya Kepada Kebenaran

Seseorang pada pikirannya memiliki keyakinan kalau dia mengikuti dien Islam yang benar, berarti ia melecehkan nenek moyangnya. Sehingga karena kecintaannya kepada nenek moyangnya itu ia tidak bisa menerima Islam.

Contoh nyata kasus ini pada jaman Rasullullah SAW dimana paman Nabi, yaitu Abu Thalib yang meyakini bahwa Nabi Muhammad itu benar ajarannya, bahkan ia selalu membela dan melindungi Rasullullah SAW dari gangguan orang-orang kafir. Akan tetapi ia sangat mencintai nenek moyangnya dari kalangan kafir yang menyembah berhala. Ketika menjelang meninggalnya pun, Nabi Muhammad SAW Bersabda: “Katakanlah, Laa ilaha illallah, maka engkau akan selamat ” Akan tetapi ada dua orang musyrikin yang hadir dihadapannya. Mereka berkata kepada Abu Thalib: “Apakah Engkau benci kepada Agama nenek moyang kita?” Akhirnya ia mati dalam keadaan musyrik.

Adanya Permusuhan Antara Seseorang Dengan Yang Lain, Kemudian Musuhnya Mengikuti Kebenaran

Disebabkan oleh adanya permusuhan pribadi antara seseorang dengan musuhnya, pada akhirnya orang tersebut tidak mau mengikuti kebenaran seperti musuhnya. Hal ini disebabkan oleh tabiat orang yang bermusuhan itu, masing-masing selalu ingin tampil berbeda dengan musuhnya. Misal seseorang menjadi tidak berkenan untuk pergi ke majelis ta’lim karena musuhnya pun pergi kemajlis ta’lim. Seharusnya hal yang seperti ini tidak perlu terjadi karena kita harus memiliki pegangan teguh terhadap jalan kebenaran walaupun musuhnya pun melakukan hal serupa. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujuraat:10 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua saudaramu.”. Hal yang harus diperhatikan dalam menanggapi masalah ini ialah mencoba mengintrospeksi diri serta berpikiran obyektif kepada diri sendiri dan orang lain serta berlaku benar pada semua.

Penghalang Berupa Adat Istiadat

Seseorang sejak kecil telah terbiasa menjalankan ajaran yang bersumber dari adat istiadat sehingga sudah mendarah daging, kemudian datang seorang pemuka agama Islam yang harus merubahnya, membawanya untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah, maka usaha ini bukanlah perkara yang mudah. Seorang juru dakwah harus membekali dirinya dengan sabar dalam merubah pola pikir orang-orang yang didakwahinya. Harus dipahami, bahwa untuk merubah tingkah laku seseorang itu perlu waktu, tidak semudah yang kita kira. Di sini dituntut adanya kesabaran. Demikian juga seseorang yang sudah terbiasa mengikuti adat-istiadat harus bisa meninggalkannya apabila ternyata bertentangan dengan syari’at Islam. Diperbolehkan untuk mengikuti adat istiadat selama itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun Firman Allah SWT yang menyatakan tentang adat istiadat ialah pada QS. Al-An’aam: 116 yang berbunyi “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”.

Bahaya Ambisi Terhadap Harta dan Kehormatan

Seperti yang tertera dalam sebuah hadis dari Ka’ab Malik al-Anshari bahwasannya Nabi Muhammad mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali hanya sedikit yang selamat.

Ambisi terhadap Harta

Ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua, antara lain sebagai berikut:

Sangat cinta terhadap harta dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan cara yang halal.

Walaupun akibat yang muncul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal hal yang memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan kenikmatan yang abadi di sisi Allah SWT, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain.

Ada beberapa hakikat pada bahasan ini antara lain, Hakekat asy-syuhh ialah kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak puasnya seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan seksual dan selainnya. Kemudian setelah itu ia melampaui batas dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Sedangkan Al-bukhlu merupakan menahan diri dari mengeluarkan harta yang dimilikinya.

Ambisi terhadap Kehormatan

Ambisi terhadap kehormatan dibagi menjadi dua macam:

Mencari Kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta.

Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya dalam usahanya dalam mencapai tujuan tersebut, disamping membahayakan pelakunya. Ketika telah mendapatkan kehormatan di dunia dengan cara mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusak-rusakan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Diantara bahaya dari ambisi terhadap kehormatan adalah biasanya orang yang memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya, ia akan suka dipuji karena perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan terpuji. Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan menyakiti dan menterornya.

Mencari kehormatan dan kedudukan yang tinggi di mata manusia melalui jalan agama, misalnya seperti; ilmu, amal shalih dan zuhud.

Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah SWT, berupa kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan dengan-Nya. Pada bagian ini pun terbagi dua, antara lain sebagai berikut:

Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan mencarinya dengan jalan yang diharamkan.

Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka, agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia, untuk menampakan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama, maka orang seperti ini bagiannya adalah neraka.

Beberapa Penyebab Zuhud

Untuk memperoleh sikap zuhud, terdapat beberapa sebab, diantaranya:

Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar.

Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagi orang-orang yang zhalim dan sombong.

Dengan merenungi tentang pahala yang akan didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati, ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya, barangsiapa yang rendah hati karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.

Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmat-Nya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

***

Dikutip dari: http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=329

Hello world! 5 Juni 2009

Posted by m3n4n in Uncategorized.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!