Feeds:
Pos
Komentar

Setan yang terkutuk adalah musuh bapak kita, Adam ‘alaihissalam. Musuh bebuyutan ini telah berjanji pada dirinya untuk berusaha menggelincirkan anak Adam dan memalingkan manusia dari kebenaran menuju kejelekan, dari petunjuk keada kesesatan.
Lanjut Baca »

Iklan

Orang tua kita dahulu mengajarkan,” nak.. kalau habis menguap, jangan lupa istighfar ya..” Gayungpun bersambut, lalu muncul lah presepsi bahwa beristighfar setelah menguap itu termasuk sunnah atau ada perintahnya dari Nabi. Anggapan ini tersebar luas di masyarakat.

Apakah anggapan ini benar ?

Sebagai seorang mukmin tentu kita tak ingin beramal hanya sekedar beralasan anggapan atau praduga, tanpa dalil yang melandasi amalan tersebut. Karena hukum asal dari ibadah itu dilarang, sampai ada dalil yang memperintahkan.

Tak ada salahnya bila kemudian kita mempertanyakan,

” Apakah benar istighfar setelah menguap itu sunnah?” Kemudian mencari jawaban dari penjelasan para ulama rabbani.

Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi hafidzohullah pernah ditanya mengenai permasalahan ini. Setelah beliau memuji Allah dan bershalawat kepada RasulNya, beliau menjawab,

” Tidak ada perintahnya beristighfar (setelah menguap). Tak ada dzikir-dzikir khusus yang berkaitan dengan menguap, tidak pula diperintahkan untuk beristi’adzah setelah menguap. Oleh karena itu kita mencukupkan diri dengan amalan-amalan yang ada dalilnya.

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau memerintahkan seorang yang menguap untuk menahannya.

Dan (perlu kita ketahui) bahwa amalan sunnah itu ada beberapa macam:

– Ada dalam bentuk perkataan

– kemudian ada dalam bentuk perbuatan saja

– ada pula yang berupa perkataan dan perbuatan sekaligus… ”

( Fatwa beliau dapat didengar di sini)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah juga menfatwakan,

أما التثاؤب فإن الرسول عليه الصلاة والسلام قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدُكم فليَكْظِم ما استطاع، فإن عجز فليضع يده على فيه) ولم يقل: إذا تثاءب أحدكم فليستعذ بالله، مع أنه قال: (التثاؤب من الشيطان)، فدل هذا على أن الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم عند التثاؤب ليست بسُنَّة.

” Adapun berkaitan dengan menguap, Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam bersabda, ” Menguap itu dari setan, maka bila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin. Bila ia tak mampu menahannya, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya.”

Nabi tidak mengatakan ,” Bila kalian menguap maka beristi’adzahlah.” Padahal bersamaan dengan itu beliau juga bersabda,” Menguap itu dari setan.”

Ini dalil bahwa beristi’adzah setelah menguap itu bukan termasuk sunnah (red. tuntunan Nabi). ” ( Silsilah liqa al-baba al-maftuh, juz 22)

Meski fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin di atas hanya menyinggung permasalahan isti’adzah setelah menguap, namun secara subtansi pernyataan beliau tersebut juga ada kaitannya dengan masalah yang sedang kita bicarakan, yaitu beristighfar setelah menguap sama-sama tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu’alaihiwasallan.

Sehingga bisa pula kita katakan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak bersabda ,” Bila kalian menguap maka beristighfarlah.”

Akan tetapi Nabi bersabda, “…bila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin. Bila ia tak mampu menahannya, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya.”
Lalu Apa yang Disunnahkan Tatkala Menguap ?

Dalam fatwa Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi di atas telah disinggung bahwa amalan sunnah yang berkaitan dengan menguap adalah amalan sunnah dalam bentuk perbutan, bukan ucapan atau dzikir tertentu.

Diantara amalan yang disunnahkan tatkala seorang menguap adalah menahannya semampu mungkin.

Hal ini karena telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila salah seorang dari kalian bersin lantas dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan “yarhamukallah”). Adapun menguap, maka dia dari setan. Maka bila seorang menguap hendaklah dia menahan semampunya. Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Kemudian bila tak mampu menahannya, maka tutuplah mulut dengan tangan. Karena Rasulullah shallallahua’alaihiwasallam pernah bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُل

“Apabila salah seorang diantara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syeitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka). ” (HR. Muslim no.2995 (57) dan Abu Dawud no.5026)

Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

…..

Derman, Sumbermulyo, 17 Agustus 2014

Penulis: Ahmad Anshori

Muroja’ah: Ustadz Said Yai, MA

Sumber: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/adakah-tuntunan-membaca-istighfar-setelah-menguap.html

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛
Lanjut Baca »

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat manusia merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa.
Lanjut Baca »

Jihad, sering kali didengungkan dan dikobarkan oleh berbagai kalangan. Namun demikian, seiring dengan dengungan tersebut kata jihad salah dipahami. Kebanyakan kita mengira bahwa jihad adalah satu amalan simpel, yaitu angkat senjata lalu arahkan kepada setiap orang yang dianggap kafir atau memusuhi agama Allah, maka selesai dan pasti surga.
Lanjut Baca »

Sebagian orang menyampaikan syubhat atau suatu kerancuan, “Kalian menyatakan bahwasanya jin itu tercipta dari api. Kemudian kalian juga menyatakan bahwa jin yang kafir akan disiksa di api Jahannam. Begitu pula jin yang mencuri berita langit akan dilempar dengan api. Bagaimana bisa api berpengaruh pada jin sedangkan mereka sendiri tercipta dari api?”
Lanjut Baca »

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11) Lanjut Baca »